BUDAYA
MASYARAKAT SUKU TENGGER
DISUSUN
OLEH :
Nama :1.
Elok
:2.
Heni Wulandari
:3.
Ida Ayu Utami
:4.
Novitasari
:5.
Ranggawati Gihar
:6.
Riskyana dewi Yanita
:7.
Tri Kumalasari
:8.Yunia
Chatur Winanti
Prodi :Matematika 2013 A
UNIVERSTITAS
PGRI BANYUWANGI
Jl.
Ikan tongkol no. 22 Kertosari-Banyuwangi
2013
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur Penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar
dan tepat waktu.Keberhasilan dalam menyusun makalah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak
Drs.H.Saiful Hadi. MM selaku dosen mata kuliah Ilmu sosial budaya.
2. Rekan-rekan
Mahasiswa FMIPA MATEMATIKA Angkatan 2013
UNIBA
3. SemuaPihak yang terlibat
dalam
penyusunan
makalah
ini
Tiada
kata yang mampu kami ucapkan selain ucapan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini . Penyusun amatlah menyadari
bahwa makalah ini banyak memiliki kekurangan dan kelemahan serta sangat jauh
dari sempurna. Oleh karena itu Penyusun mengharapkan saran, kritik, dan masukan
dari Pembaca agar ke depannya kami bisa menyusun makalah lebih baik lagi.
Akhirnya
kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami selaku Penyusun khususnya
dan bagi Pembaca pada umumnya.
Banyuwangi,
November 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i
HALAMAN DAFTAR ISI
...................................................................................................... ii
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
...................................................................................................................
1
I.2. Rumusan Masalah
..............................................................................................................
2
1.3. Tujuan dan Manfaat
..........................................................................................................
2
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Kebudayaan masyarakat tengger..............................................................................3
2.1.1. Agama
Masyarakat suku tengger................................................................3
2.1.2. Upacara Keagamaan
Masyarakat Suku Tengger........................................3
2.1.3. Tempat Keagamaan Masyarakat Suku
Tengger............................6
2.1.4 Peralatan
Upacara..........................................................................10
2.2Adat
istiadat…………....................................................................................11
2.2.1.
Tata Cara Bertamu...............................................................................11
2.2.2. Bahasa.................................................................................................11
2.2.3. Pakaian khas........................................................................................12
2.2.4. Kepercayaan Masyarakat Tengger......................................................12
2.2.5. Hubungan
Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger.............................15
2.2.6. Hubungan Antar-manusia Menurut Falsafah Tengger...............................15
2.2.7. Sikap dan Pandangan Hidup Pandangan
tentang Perilaku.......................16
2.2.8. Siklus Hidup Menurut Falsafah Tengger....................................................17
2.2.9. Pertunangan dan
Perkawinan....................................................................18
2.2.10. Hak Waris.................................................................................................19
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
.......................................................................................................................20
3.2. Saran
.................................................................................................................................20
DAFTARPUSTAKA.............................................................................................................21
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1. LATAR
BELAKANG
Masyarakat suku tengger merupakan salah satu suku yang mendiami lereng
gunung Bromo-Semeru. Gunung bromo (2.392m) adalah gunung yang dianggap suci
bagi masyarakat tengger karena merupakan lambang tempat dewa Brahma, tempat
wisata terkenal di jawa timur yang dapat ditempuh lewat empat kabupaten, yaitu:
Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.
Puncak
gunung Bromo luasnya 10 km yang merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai
dengan panorama yang menakjubkan bisa menikmati hamparan lautan pasir seluas 50
km. Kawah gunung Bromo berada dibagian utara berketinggian 2.392 m diatas
permukaan laut yang masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap ke
udara. Suhu rata-rata digunung Bromo antara 3-170C. Bagian selatan merupakan
dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai, danau-danau kecil yang
membentang di kaki gunung semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan sungguh
merupakan pesona alam yang mengagumkan. Disamping pemandangan alam yang indah
gunung bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat
tengger yang tetap berpegang teguh pada adat-istiadat dan budaya yang menjadi
pedomannya. Masyarakat tengger memiliki rasa persaudaraan serta solidaritas
yang sangat tinggi. Menurur nara sumber di masyarakat tengger kriminalitas
sangatlah kecil semua itu disebabkan oleh rasa percaya pada adanya tradisi,
kualat, serta akibat yang akan didapat dari Sang Hyang Widhi jika mereka
melakukan suatu kesalahan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kebudayaan masyarakat suku tengger?
2. Bagaimanakah adat-istiadat masyarakat suku tengger?
3. Bagaimanakah
pewarisan budaya masyarakat suku tengger kepada generasi muda?
1.3. Tujuan
dan Manfaat
1. Untuk mengetahui kebudayaan masyarakat suku tengger.
2. Untuk mengetahui
adat- istiadat masyarakat suku tengger
3. Untuk
mengetahui pewarisan budaya masyarakat suku tengger
kepada generasi muda
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. KEBUDAYAAN
MASYARAKAT TENGGER
2.1.1. Agama
Masyarakat suku tengger
Agama
masyarakat suku Tengger adalah agama hindu yang masih mewarisi tradisi hindu
sejak zaman kejayaan majapahit. Namun saat ini juga masyarakat tersebut yang
menganut agama lain yaitu: Islam, Kristen Protestan, Khatolik serta Budha.
Walaupun orang Tengger beragama Hindu, mereka tidak dapat dapat dianggap
sebagai kelompok etnis berbeda dari orang jawa yang lain. Mereka adalah orang
Hindu tetapi tidak melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali.
Namun demikian, selama sejarah manusia Tengger daerahnya dikurangi oleh orang
pendatang yang beragama Islam dari daerah lain di Jawa. Sampai tengah abad 19
kebanyakan desa-desa Tengger lebih rendah dari 1400m dikuasai oleh pendatang
yang beragama Islam. Upacara yang terkenal adalah upacara kasada terkenal
hingga manca Negara dan selalu ramai dihadiri banyak turis luar negeri maupun
lokal.
2.1.2 Upacara
Keagamaan Masyarakat Suku Tengger
1. Pujan Karo
(Bulan Karo)
Upacara
Karo
Hari raya
terbesar masyarakat Tengger adalah upacara karo atau hari raya karo diawali
tanggal 15 kalender saka Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka
cita, mereka mengenakan pakaian baru, kadang pula membeli pakain hingga 2-5
pasang, perabotan pun juga baru. Makanan dan
minuman pun juga melimpah pada adat ini
masyarakat suku tengger juga melakukan anjang sana (silaturrahmi) kepada semua
sanak saudara, tetangga semua masyarakat Tengger. Uniknya tiap kali berkunjung
harus menikamati hidangan yang diberikan oleh tuan rumah. Tujuan
penyelenggaraan upacara karo ini adalah: mengadakan pemujaan terhadap Sang
Hyang Widhi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal-usul manusia,
untuk kembali pada kesucian, dan untuk memusnahkan angkara murka.
2. Pujan Kapat
(Bulan Keempat)
Upacara
kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat,
bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan
terhadap arah mata angin yang dilakukan bersama- sama disetiap desa (rumah
kepala desa) yang dihadiri para pini sepuh desa, dukun, dan masyarakat desa.
3. Pujan Kapitu
(Bulan Tujuh)
Pujan kapitu
(bulan tujuh), semua pini sepuh desa dan keharusan pandita dukun melakukan tapa
brata dalam arti diawali dengan pati geni (nyepi) satu hari satu malam, tidak
makan dan tidak tidur. Selanjutnya diisi dengan puasa mutih (tidak boleh makan
makanan yang enak), biasanya hanya makan nasi jagung dan daun – daunan selama
satu bulan penuh. Setelah selesai ditutup satu hari dengan pati geni. Pada
bulan kapitu ini masyarakat suku tengger tidak diperbolehkan mempunyai hajat.
4. Pujan Kawolu
Upacara ini
jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tanggal 1 tahun saka. Pujan kawolu sebagai
penutipan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan
untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang. Pujan
kawolu dilakukan bersama dirumah kepala desa.
5. Pujan
Kasangan
Upacara ini
jatuh pada bulan kesembilan (sanga) tanggal 24 setelah purnama tahun saka.
Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kenyongan dan membawa obpr.
Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke kepal desa, untuk
dimantrai oleh pendeta, selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk
barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan mengadakan upacara ini adalah
memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat tengger.
Masyarakat bersama anak – anak keliling desa membawa alat kesenian dan obor.
6. Kasada
(Bulan Dua Belas)
Upacara
kasada dilaksanakan tnggal 14 dan 15 dilakukan di ponten pure luhur, semua
masyarakat tengger berkumpul menjelang pagi. Tidak hanya masyarakat Tengger
yang beragama Hindu saja, tetapi semua masyarakat Tengger yang beragama
lainnya. Setelah upacara, melabuhkan sesaji berupa hasil bumi yang sudah
dimantrai dukun kekawah gunung Bromo. Tidak hanya upacara saja tetapi juaga
bermusyawarah dan bersilaturrahmi dengan dukun dan masyarakat Tengger. Upacara
dilaksanakan pada saat purnama bulan kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara
ini juga disebut dengan hari Raya Kurba. Biasanya lima hari sebelum upacara
Yadnya kasada, diadakan berbagai tontonan seperti: tari-tarian, balapan kuda di
lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari
masing-masing desa, serta masyarakat tengger mendaki gunung Bromo untuk
melempar kurban (sesaji) ke kawah gunung bromo. Setelah pendeta melempar ongkeknya
(tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.
7. Upacara
Unan-unan
Upacara ini
di adakan hanya tiap lima tahun sekali. Unan-unan adalah tahun panjang (seperti
tahun kabisat) melakukan upacara ngurawat jagat, mensucikan hal-hal yang tidak baik
dengan mengorbankan kerbau. Unan yaitu menagrungi bulan. Tujuan unan-unan yaitu
untuk mengadaksn penghormatan terhadap roh leluhur. Dalam acara ini selalu
diadakan acara penyembelihan binatang ternak yaitu kerbau. Kepala kerbau dan
kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak
kesanggar pamujan.
Upacara yang dilakukan secara individu:
a. Upacara tujuh bulanan (sayut)
dipimpin oleh pandita dukun.
b. Upacara
indungi anak, anak yang menginjak masa remaja.
c. Upacara Tugel Gombak (laki-laki) dan
Tugel Kuncung (perempuan),
memotong
sedikit rambut sekitar pusar rambut anak-anak yang menginjak usia 5
tahun.
d. Upacara Ngruwat, jika ada saudara 2
laki-laki atau salah satu anak
laki-laki dan perempuan atau anak tunggal.
e. Upacara Kawiahan (kawin), upacara
ini sama halnya dengan ijabKabul.
f.
Upacara Wala
gara (Temu Manten).
g. Upacara Mendirikan Rumah.
h. Upacara
Kematian, minimal 4 hari setelah meningggal dilakukan
upacara untas
untas
(roh orang meningggal diharapkan kembali pada pemiliknya).
i. Upacara
Entas – Entas
Yakni upacara kematian yang terakhir kali dan perkawinan. “Waktu
sekarang ini
merupakan hari-hari baik bagi
masyarakat Tengger untuk
melaksanakan entas
entas dan
perkawinan. Upacara entas-entas oleh masyarakat Tengger seperti
halnya
upacara pembakaran mayat (Ngaben) di Bali. Bedanya, di
masyarakat
Tengger yang dibakar adalah boneka dari yang meninggal dunia.
2.1.3. Tempat Keagamaan Masyarakat Suku Tengger
Pemeluk
agama Hindu suku Tengger tidak sama dengan pemeluk agama Hindu pada umumnya,
mereka memiliki candi-candi tempat peribadatan,namun bila melakukan peribadatan
bertempat di Punden, danyang dan Poten. Poten merupakan sebidang lahan di
lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada. Poten terdiri dari
beberapa bangunan yang ditata dalan suatu susunan komposisi dipekarangan yang
dibagi tiga mandala/zone yaitu:
a. Mandala utama
Disebut juga
jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari:
Padma berfungsi
sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa.
Bedawang
Nala melukisakan kura-kura raksasa mendukung padmasana,
dibelit oleh
seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di
belakang
badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan
keagungan bentuk dan fungsi padmasana.
· Bangunan sekepat (tiang empat) fungsinya
untuk penyajian sarana
upacara atau
aktifitas serangkaian upacara. Bale pawedan serta tempat
dukun
sewaktu melakukan pemujaan.
b. Mandala madya
Disebut juga
jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari:
· Kori Agung
Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya
memakai
gelung empat bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan
bangunan
bujur sangkar.
· Bale kentongan letaknya disudut depan pekarangan
pura, bentuknya
susunan tepas, batur, sari dan
atap penutup ruangan kentongan.
Fungsinya
untuk tempat kentongan yang dibunyikan di awal, akhir
dan
saat
tertentu dari rangkaian upacara.
· Bale bengong, disebut
juga pawerangan suci letaknya diantara jaba
tengah,
mandala nista. Bentuk bangunannya empat persegi. Fungsinya
untuk
mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan
di
pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.
c. Mandala
Nista
Disebut juga
jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar kedalam pura yang terdiri dari
bangunan candi bentar penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok
penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan dan pitu masuk ke jeroan utama
memaki kori Agung. Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai
bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan
pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menghadap ke arah timur
demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghdap kea rah timur kea rah
yrbitnya matahari. Komposisi masa – masa bangunan pura berjajar antara selatan
menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan (menurut
bpk.Soedja’i).
d. Posesi Upacara Kasada
Upacara ini dilaksanakan
setahun sekali oleh masyarakat hindu
tengger yang
mendiami 41 desa pada 4 kecamatan di Probolinggo, Lumajang, Malang, dan
Pasuruan. Upacara kasada diadakan mulai tengah malam hingga dini hari, dan
persiapannya dilaksanakan sejak 24.00 WIB bergerak mulai di depan rumah dukun
(pendeta) Mujono, dan sampai ke pantai p[asir di pura Agung Puten kira-kira
pukul 04.00 WIB. Menjelang menjelang matahari terbit yang disebut dengan Surya
Serwana. Pada pukul 05.00 WIB upacara kasada dilaksanakan dengan terlebih
dahulu dilakukan ritual di pura puten yang dilnjutkan turun menuju kawah gunung
Bromo yang berjarak 2 km untuk melakukan ritual sesaji yang terdiri dari dua
unsur penting, yaitu kepala bungkah dan kepala gantung. Kepal bungkah itu
artinya buah-buahan yang berasal dari tanah seperti kentang dan ketela, serta
kepala gantung yaitu buah-buahan yang bergantung. Ritual sesaji itu merupakan
sesembahan sebagai ciri utama kehidupan dari masyarakat tengger, kecuali ada
secara spesifik yang memiliki permohonan khusus, biasanya korbannya yaitu ayam
atau kambing ini, yang khusus mau jadi pejabat. Pada pengambilan sesajen para
pengambil sesajen memakai gala dari kain goni, banyak tamu yang melemparkan
sesajen ke kawah gunung bromo. Namun adapula yang mengambil uang ke dalam kawah
tersebut. Pada upacara kasada petani juga melemparkan hasil pertaniaanya ke
dalam kawah. Orang yang mengambil lemparan tidak boleh hanya mengambil satu
kali, tetapi harus tujuh kali berturut-turut. Apabila melanggar maka orang
tersebut mendapatkan musibah, seperti sakit. Cara penyembuhannya adalah dengan
cara meminta maaf dan juga membuat acara ruwatan (bpk. Sugik).
e. Legenda Kasada
Gunung Bromo tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan
mastarkat
suku Tengger. Legenda kasada adalah merupakan cikal bakal rakyat Tengger dan
menggambarkan hubungan manusia dan makhluk halus gunung Bromo. Dalam legenda
kasada makhluk halus gunung Bromo tidak memilki namA sendiri tetapi di panggil
oleh nama Sang Yang Widhi. Cikal bakal Tengger dalam ceritanya digambarkan
sebagai asal – usulnya dari kerajaan majapahit dari sebelum keturunan kerajaan
Hindu-Budha di jawa. Tujuan legenda kasada adalah bahwa suatu nenek monyang
Tengger bernama “Dewa Kusuma” anak dari “Joko Seger” dan “Rara Anteng”
mengorbankan jiwanya untuk keluarganya dan orang Tengger. Akibatnya adalah
perjanjian di antara roh leluhur “Dewa Kusuma”dan orang Tengger untuk memberi
sesajian setiap tanggal 14 bulan kasada dalam ketanggalan Tengger. Upacara
sesajian itu bernama “Upacara Kasada” dan diikuti oleh orang Tengger satu tahun
sekali sampai sekarang. Dalam permulaan legenda kasada ada tiga peran pokok.
Yang pertama bernama ‘Kyai Dadap Putih’ suatu dukun dari kerajaan majapahit.
Dia datang ke daerah Tengger bertujuan bersemedi. Peran yang kedua adalah orang
perempuan muda bernam “Rara Anteng” pula datang dari kerajaan majpahit.dia
datang ke daerah Tengger untuk mencari ayahnya yang menjadi hilang dan sambil
semedi di gunungnya. Peran ketiga adalah “‘Joko Seger” orang dari desa di
daerah gunungnya. Dia pula mencari orang, pamannya yang hilang sambil semedi di
gunungnya. “Kyai Dadap Putih” bertemu dengan “Rara Anteng” dan mengangkat dia
sebagai anaknya. Saat “Rara Anteng” bersemedi dia bertemu dengan “Joko Seger”
.(diceritakan oleh Bpk.Soedja’i)
2.1.4 Peralatan
Upacara
Baju Adat
Tengger Hitam, sehelai kain baju tanpa jahitan,Udeng dan kain Selempang
berwarna kuning. Hal ini sesuai dengan yang diperoleh sebagai warisan dari
nenek moyang Suku Tengger. Prasen, berasal dari kata rasi atau praci
(Sansekerta) yang berarti zodiak. Prasen ini berupa mangkuk bergambar binatang
dan zodiak. Beberapa prasen yang dimiliki oleh para dukun berangka tahun Saka:
1249, 1251, 1253, 1261; dan pada dua prasen lainnya terdapat tanda tahun Saka
1275. Tanda tahun ini menunjukkan masa berkuasanya pemerintahan Tribhuwana
Tunggadewi di Majapahit. Tali sampet, terbuat dari kain batik, atau kain
berwarna kuning yang dipakai oleh Dukun Tengger.
Genta, keropak dan prapen, sebagai pelengkap upacara.
Genta, keropak dan prapen, sebagai pelengkap upacara.
2.2. ADAT ISTIADAT
2.2.1. Tata Cara Bertamu
Masyarakat
tengger pada umumnya, apabila bertamu mereka tidak
berada
diruang tamu pada umumnya melainkan di dapur.hal ini
disebabkan
oleh dinginnya suhu udara yang sangat menyengat.
Sehingga,
mereka cenderung berada didekat perapian yang
Letaknya
di
dapur untuk menghangatkan badan. Dan suguhan khasnya
adalah
Jagung
Bakar.dan kebiasaan ini telah ada sejak zaman dahulu
Hingga
melekat sampai saat ini.
2.2.2. Bahasa
Masyarakat
suku tengger merupakan keturunan dari Roro anteng dan Joko seger. Roro Anteng
yang masih keturunan bangsawan majapahit dan menganut agama Hindu-Budha
majapahit. Saat majapahit mulai menurun kekuasaannya dan daerah Jawa sudah
mulai dikuasai oleh Islam Roro Anteng melarikan diri menuju daerah Tengger
hingga ia menikah dengan Joko Seger. Rara Anteng sebagai keturunan bangsawan
majapahit ia menggunakan bahasa Jawa (kuno) atau biasa disebut bahasa jawa
majapahit sebagai alat komunikasi.
Mereka
menggunakan dua tingkatan bahasa yaitu ngoko, bahasa sehari-hari terhadap
sesamanya, dan krama untuk komunikasi terhadap orang yang lebih tua atau orang
tua yang dihormati. Pada masyarakat Tengger tidak terdapat adanya perbedaan
kasta, dalam arti mereka berkedudukan sama.
Contoh: Aku
( Laki-laki) = Reang , Aku ( wanita ) = Isun , Kamu ( untuk
seusia)=
Sira , Kamu ( untuk yang lebih tua) = Rika, Bapak/Ayah= Pak , Ibu =
Mak ,
Kakek=Wek , Kakak= Kang , Mbak= Yuk
2.2.3. Pakaian khas
Masyarakat
suku tengger memiliki cirri khas, yaitu sarung sebagai pelengkap dalam
berbusana. Laki – laki maupun perempuan, mereka tidak lepas dari sarung sebagai
cirri khas. Semua itu bermula dari dinginnya cuaca wilayah tengger sehingga
mereka menggunakan sarung, yang berawal dari orang tua mereka yang memakai
sarung, sehingga mereka meniru kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua mereka.
Masyarakat suku tengger yang akan membuat KTP, mereka berfoto dengan
menggunakan pakaian adat sebagai foto KTP. Mereka juga berpakaian mirip dengan
suku Hindu Bali, yang menggunakan selendang kuning sebagai pelengkap, karena
suku bali pada umumnya satu – kesatuan dengan mereka (suku tengger), yaitu
bangsawan majapahit yang melarikan diri untuk mempertahankan adat – istiadat,
serta kepercayaan mereka. .
2.2.4.
Kepercayaan Masyarakat Tengger
Menurut
kosmologi konsep kepercayaan Masyarakat suku tengger gunung bromo berbentuk
tengah atau pelabuhan untuk sistim kepercayaan rakyat. Pada zaman dahulu semua
bangunan dan sanggar tengger dibangun menghadap gunung bromo. Dukun akan
melakukan selamatan menghadap gununga bromo. Walaupun saat ini orang yang
meninggal dunia dikuburkan menghadap selatan, berbeda dari pada orang yang lain
jawa. Selanjutnya dukun melakukan selamtan menghadap gunung bromo atau
keselatan. Semua hal di atas bisa dijelaskan oleh kosmologi tengger pada zaman
dahulu.
Orang tengger percaya bahwa dengan daerahnya mereka mendapat nama dari legenda kasada yang diceritakan di atas. Dua peran dalam legenda tersebut dianggap cikal bakal orang Tengger, Yaitu ‘Rara Ateng’ dan ‘Joko Seger’. Nama Tengger dari keduanya disebut ‘teng’ dari ‘Rara Ateng’ dan ‘ger’ dari ‘Joko Seger’.kata tengger menjadi istilah untuk ‘orang gunung’ dalam bahasa Jawa Kuno. Pada waktu agama Hindu-Budha menguasai pulau Jawa terutama kerjaan Majapahit, daerah Tengger dianggap sebagai tempat sakral. Daerahnya digunakan untuk tempat semedi dan selamatan terhadap ‘Dewa Api’ yaitu ‘Dewa Brama’. Gunung Bromo juga dapat namanya dari ‘Dewa Brama’. Tidak hanya Gunung Bromo yang berhubungan dengan kepercayaan Hindu-Budha dari India di daerah Tengger. Kedua Laut Pasir bersama Gunung Mahameru berhubungan dengan kepercayaan Hindu. Dalam wejangan Jawa Kuno yang bernama ‘Prastha Nikaparwa’ ada laut pasir si saerah gunung-gunung Himalaya yang harus dilewati oleh para Pandusa, juga ada di Gunung Meru. Maka si9mbolisme di gunung ini memang kuat. Gunung mahameru mendapat nama dari ‘Gunung Meru’. Dalam keprcayaan orang Hindu menganggap ‘Gunung Meru’ sebagai rumah para dewa hubungannya diantara manusia (bumi) dan Kayangan. Pada waktu itu Agama Islam menguasai Pulau Jawa, dan kerajaan majapahit turun pada abad 16. Kebanyakan orang Hindu-Budha di Jawa melarikan diri sampai pulau Bali. Betapapun orang yang tidak bisa berjalan ke Bali pindah ke daerah bergunung-gunung Tengger. Orang Tengger sampai saat ini masih beragama Hindu dan mereka memegang teguh agamanya meskipun banyak sekali pendatang dari luar daerah Tengger, bahkan dari manca Negara sekalipun yang datang untuk menikmati keindahan panoramanya, atau menetap di daerah tersebut untuk menjadi penduduk dan bertempat tinggal disana..
Orang tengger percaya bahwa dengan daerahnya mereka mendapat nama dari legenda kasada yang diceritakan di atas. Dua peran dalam legenda tersebut dianggap cikal bakal orang Tengger, Yaitu ‘Rara Ateng’ dan ‘Joko Seger’. Nama Tengger dari keduanya disebut ‘teng’ dari ‘Rara Ateng’ dan ‘ger’ dari ‘Joko Seger’.kata tengger menjadi istilah untuk ‘orang gunung’ dalam bahasa Jawa Kuno. Pada waktu agama Hindu-Budha menguasai pulau Jawa terutama kerjaan Majapahit, daerah Tengger dianggap sebagai tempat sakral. Daerahnya digunakan untuk tempat semedi dan selamatan terhadap ‘Dewa Api’ yaitu ‘Dewa Brama’. Gunung Bromo juga dapat namanya dari ‘Dewa Brama’. Tidak hanya Gunung Bromo yang berhubungan dengan kepercayaan Hindu-Budha dari India di daerah Tengger. Kedua Laut Pasir bersama Gunung Mahameru berhubungan dengan kepercayaan Hindu. Dalam wejangan Jawa Kuno yang bernama ‘Prastha Nikaparwa’ ada laut pasir si saerah gunung-gunung Himalaya yang harus dilewati oleh para Pandusa, juga ada di Gunung Meru. Maka si9mbolisme di gunung ini memang kuat. Gunung mahameru mendapat nama dari ‘Gunung Meru’. Dalam keprcayaan orang Hindu menganggap ‘Gunung Meru’ sebagai rumah para dewa hubungannya diantara manusia (bumi) dan Kayangan. Pada waktu itu Agama Islam menguasai Pulau Jawa, dan kerajaan majapahit turun pada abad 16. Kebanyakan orang Hindu-Budha di Jawa melarikan diri sampai pulau Bali. Betapapun orang yang tidak bisa berjalan ke Bali pindah ke daerah bergunung-gunung Tengger. Orang Tengger sampai saat ini masih beragama Hindu dan mereka memegang teguh agamanya meskipun banyak sekali pendatang dari luar daerah Tengger, bahkan dari manca Negara sekalipun yang datang untuk menikmati keindahan panoramanya, atau menetap di daerah tersebut untuk menjadi penduduk dan bertempat tinggal disana..
Asal-Usul Manusia menurut Falsafah Tengger
Ajaran
tentang asal-usul manusia adalah seperti terdapat pada mantra purwa bumi.
Sedangkan
tugas manusia di dunia ini dapat dipelajari melalui cara
masyarakat
Tengger memberi makna kepada aksara Jawa yang mereka kembangkan. Adapun makna
yang dimaksudkan adalah seperti tersebut dibawah ini:
- h.n.c.r.k : hingsun nitahake cipta, rasa karsa,
- d,t,s,w,l : dumadi tetesing sarira wadi laksana,
- p, dh, j, y, ny : panca dhawuh jagad yekti nyawiji,
- m, g, b, th, ng : marmane gantia binuka thukul
ngakasa.
Apabila
diartikan secara harfiah kurang lebih sebagai berikut: Tuhan Yang
Maha Esa
menciptakan cahaya, rasa dan kehendak pada manusia, (manusia)
dijadikan
melalui badan gaib untuk melaksanakan lima perintah di dunia
dengan
kesungguhan hati, agar saling terbuka tumbuh (berkembang) penuh
kebebasan (ngakasa menuju alam bebas angkasa).
Pada
hakikatnya manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dilahirkan dari tidak
ada menjadi
ada atau dari alam gaib, untuk mengemban tugas di dunia ini
melaksanakan
lima perintah-Nya dengan menyatukan diri pada tugasnya,
agar di dunia ini tumbuh keterbukaan dan perkembangan menuju
kesempurnaan.
Masih ada
lagi tafsiran tentang aksara Jawa yang dikaitkan dengan cerita
tentang Aji
Saka, yaitu bahwa ada utusan, yang keduanya saling bertengkar
(berebut
kebenaran). Keduanya sama kuatnya (sama-sama berjaya), yang
akhirnya
keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu menjadi mayat. Hal ini
mengandung
makna bahwa baik-buruk, senang-susah, sehat-sakit, adalah
ada pada
manusia dan tak dapat dihindari. Kesempurnaan hidup manusia
apabila dapat menyeimbangkan kedua hal itu.
2.2.5. Hubungan
Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger
Masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya
merupakan
pembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan halus yang
bersifat
abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke pertiwi (bumi),
sedangkan
sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di
dalam
neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat
berhenti.
Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua
kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan.
kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan.
Masyarakat
Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir
ialah bagian timur yang disebut juga kawah candradimuka, yang akan menyucikan
sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada
hari ke-1000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.
2.2.6. Hubungan Antar-manusia
Menurut Falsafah Tengger
Sesuai dengan ajaran yang hidup di masyarakat Tengger seperti terkandung
dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setia, yaitu:
-setya budaya artinya, taat, tekun, mandiri;
- setya wacana artinya setia pada ucapan;
- setya semya artinya setia pada janji;
- setya laksana artinya patuh, tuhu, taat;
- setya mitra artinya setia
kawan.
Ajaran tentang kesetiaan berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat
Tengger. Hal ini tampak pada sifat taat, tekun bekerja, toleransi tinggi,
gotong-royong, serta rasa tanggung jawab. umpamanya menunjukkan bahwa pada
umumnya mereka bekerja di ladangnya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore setiap
hari secara tekun. Sikap gotong-royongnya terlihat pula pada waktu mendirikan
pendopo agung di Tosari, adalah sebagai hasil jerih payah rakyat membuat jalan
sepanjang 15 km dari Tosari menuju Bromo (tahun 1971-1976). Demikian pula
tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial tercermin pada kesadaran
rakyat untuk ikut serta menjaga keamanan, serta merelakan sebagian tanahnya
apabila terkena pembangunan jalan.
Sifat lain yang positif adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap
perkembangan, yaitu kesediaan mereka untuk menerima orang asing atau orang
lain, meskipun mereka tetap pada sikap yang sesuai dengan identitasnya sebagai
orang Tengger.
Hubungan antara pria dan wanita tercermin pada sikap bahwa pria adalah sebagai
pengayom bagi wanita, yaitu ngayomi, ngayani, ngayemi, artinya memberikan
perlindungan, memberikan nafkah, serta menciptakan suasana tenteram dan damai.
2.2.7. Sikap dan Pandangan Hidup Pandangan
tentang Perilaku
Sikap dan
pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat),
wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah,
tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan
terampil). Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut pengetahuan
tentang watak yaitu:
Ø prasaja
berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya;
Ø prayoga
berarti senantiasa bersikap bijaksana;
Ø pranata
berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau
pemerintah;
Ø prasetya
berarti setya;
Ø prayitna
berarti waspada.
Atas dasar
kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap
kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara
lain mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping
dikembangkan pula sikap lain sebagai perwujudannya.
Mereka
mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidak
ikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga
pernah ada kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya
karena tidak ikut serta dalam kegiatan gotong-royong.
Sikap
toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan
orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan
mereka tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap
tinggi, sebab mereka lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai
tujuan. Pada dasarnya manusia itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan,
meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itu tampak pula dalam hal
perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagi para
putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya
perkawinan bersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada
yang berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun.
Namun dalam hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap
melakukannya sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya.
Sikap hidup
masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja
jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap
mempertahankan tanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah
positif dengan titi luri-nya, yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai
penghormatan kepada leluhur.
Sikap
terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi
kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian,
dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai
keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan
mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke
atas).
Masyarakat
Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria Tengger.
Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar anak
mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya. Sikap
mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh
model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara
mereka mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya
kejayaan dan kesejahteraan masyarakatnya.
2.2.8. Siklus Hidup Menurut Falsafah Tengger
Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut
pandangan
masyarakat Tengger, yakni:
1. umur 0
sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang
bramacari yaitu masa yang tepat untuk pendidikan;
2. usia 21
(wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta,
masa yang tepat untuk membangun rumah dan mandiri;
3. 60 tahun ke
atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai
manusia usia lanjut untuk lebih mementingkan masa
akhir hidupnya.
Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau
masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang dimaksudkan
adalah hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa
menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.
2.2.9. Pertunangan dan Perkawinan
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang
cukup
bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah
terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan
(pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan
pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila
kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon)
berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok.
Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan
kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan
menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu
barulah upacara perkawinan dilakukan.
Sebelum
acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan
sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran
(menetapkan) hari yang baik dan tepat, papan tempat pelaksanaan perkawinan, dan
sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali
selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih). Sebagai
kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak)
keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan.
Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi
sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria
memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas
kawin.
Pada upacara
asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil
mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan
oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka
sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir
menyaksikan. Biasanya setelah melakukan perkawinan kemanten pria harus tinggal
dirumah (mengikuti) kemanten wanita.
2.2.10. Hak Waris
Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah
untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang
terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga
yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh
kerelaan
pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yangdibakukan.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Jadi dari paparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa
Pewaris budaya Etnografi masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo adalah proses
pewarisan watak khas atau etos, akal serta pikiran masyarakat suku Tengger yang
mendiami suatu daerah terhadap generasi penerusnya yang sudah terkait dengan
hal yang sering kali dilakukan sehingga menjadi suatu kebiasaan atau tradisi
yang tidak terpisahkan masyarakat suku tengger yang mendiami daerah di Gunung
Bromo disekitar empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu: Probolinggo, Malang,
Lumajang, dan Pasuruan.
3.2. SARAN
Berdasarkan uraian yang telah saya sampaikan saya
berharap agar pembaca lebih banyak memahami Pewarisan Budaya Etnografi
Masyarakat Tengger di Gunung Bromo. Saya menyadari makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan maka dari itu, saya mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca.
Dan saya meminta maaf apabila dari uraian ini banyak kekeliruan baik dari segi
tulisan maupun ceritanya.
DAFTAR
PUSTAKA
6. www.google.com
