Jumat, 03 Juli 2015

MAKALAH KEBUDAYAAN SUKU TENGGER



BUDAYA MASYARAKAT SUKU TENGGER


DISUSUN OLEH :
  Nama           :1. Elok
                     :2. Heni Wulandari
                     :3. Ida Ayu Utami
                        :4. Novitasari
                        :5. Ranggawati Gihar
                        :6. Riskyana dewi Yanita
                        :7. Tri Kumalasari
                        :8.Yunia Chatur Winanti

Prodi               :Matematika 2013 A



UNIVERSTITAS PGRI BANYUWANGI
Jl. Ikan tongkol no. 22 Kertosari-Banyuwangi
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar dan tepat waktu.Keberhasilan dalam menyusun makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1.     Bapak Drs.H.Saiful Hadi. MM selaku dosen mata kuliah Ilmu sosial budaya.
2.     Rekan-rekan Mahasiswa  FMIPA MATEMATIKA Angkatan 2013 UNIBA
3.     SemuaPihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini
Tiada kata yang mampu kami ucapkan selain ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini . Penyusun amatlah menyadari bahwa makalah ini banyak memiliki kekurangan dan kelemahan serta sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu Penyusun mengharapkan saran, kritik, dan masukan dari Pembaca agar ke depannya kami bisa menyusun makalah lebih baik lagi.
Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami selaku Penyusun khususnya dan bagi Pembaca pada umumnya.

Banyuwangi, November  2013

                                                                                                                                      Penyusun
             






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i
HALAMAN DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang ................................................................................................................... 1
I.2. Rumusan Masalah .............................................................................................................. 2
1.3. Tujuan dan Manfaat .......................................................................................................... 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kebudayaan masyarakat tengger..............................................................................3
2.1.1. Agama Masyarakat suku tengger................................................................3
2.1.2.  Upacara Keagamaan Masyarakat Suku Tengger........................................3
2.1.3. Tempat Keagamaan Masyarakat Suku Tengger............................6
2.1.4 Peralatan Upacara..........................................................................10
2.2Adat istiadat…………....................................................................................11
2.2.1. Tata Cara Bertamu...............................................................................11
2.2.2. Bahasa.................................................................................................11
2.2.3. Pakaian khas........................................................................................12
2.2.4. Kepercayaan Masyarakat Tengger......................................................12
2.2.5.  Hubungan Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger.............................15
2.2.6.  Hubungan Antar-manusia Menurut Falsafah Tengger...............................15
2.2.7. Sikap dan Pandangan Hidup Pandangan tentang Perilaku.......................16
2.2.8. Siklus Hidup Menurut Falsafah Tengger....................................................17
2.2.9.  Pertunangan dan Perkawinan....................................................................18
2.2.10. Hak Waris.................................................................................................19

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan .......................................................................................................................20
3.2. Saran .................................................................................................................................20

DAFTARPUSTAKA.............................................................................................................21

 
 
BAB I
PENDAHULUAN


1.1.   LATAR BELAKANG
Masyarakat suku tengger merupakan salah satu suku yang mendiami lereng gunung Bromo-Semeru. Gunung bromo (2.392m) adalah gunung yang dianggap suci bagi masyarakat tengger karena merupakan lambang tempat dewa Brahma, tempat wisata terkenal di jawa timur yang dapat ditempuh lewat empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.
Puncak gunung Bromo luasnya 10 km yang merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai dengan panorama yang menakjubkan bisa menikmati hamparan lautan pasir seluas 50 km. Kawah gunung Bromo berada dibagian utara berketinggian 2.392 m diatas permukaan laut yang masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap ke udara. Suhu rata-rata digunung Bromo antara 3-170C. Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai, danau-danau kecil yang membentang di kaki gunung semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan sungguh merupakan pesona alam yang mengagumkan. Disamping pemandangan alam yang indah gunung bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat-istiadat dan budaya yang menjadi pedomannya. Masyarakat tengger memiliki rasa persaudaraan serta solidaritas yang sangat tinggi. Menurur nara sumber di masyarakat tengger kriminalitas sangatlah kecil semua itu disebabkan oleh rasa percaya pada adanya tradisi, kualat, serta akibat yang akan didapat dari Sang Hyang Widhi jika mereka melakukan suatu kesalahan.


1.2.    Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kebudayaan masyarakat suku tengger?
2. Bagaimanakah adat-istiadat masyarakat suku tengger?
3. Bagaimanakah pewarisan budaya masyarakat suku tengger kepada generasi muda?
1.3.    Tujuan dan Manfaat
1. Untuk mengetahui kebudayaan masyarakat suku tengger.
2. Untuk mengetahui adat- istiadat masyarakat suku tengger
3. Untuk mengetahui pewarisan budaya masyarakat suku tengger
     kepada generasi muda














BAB II
PEMBAHASAN

2.1.    KEBUDAYAAN MASYARAKAT TENGGER
   2.1.1. Agama Masyarakat suku tengger
Agama masyarakat suku Tengger adalah agama hindu yang masih mewarisi tradisi hindu sejak zaman kejayaan majapahit. Namun saat ini juga masyarakat tersebut yang menganut agama lain yaitu: Islam, Kristen Protestan, Khatolik serta Budha. Walaupun orang Tengger beragama Hindu, mereka tidak dapat dapat dianggap sebagai kelompok etnis berbeda dari orang jawa yang lain. Mereka adalah orang Hindu tetapi tidak melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali. Namun demikian, selama sejarah manusia Tengger daerahnya dikurangi oleh orang pendatang yang beragama Islam dari daerah lain di Jawa. Sampai tengah abad 19 kebanyakan desa-desa Tengger lebih rendah dari 1400m dikuasai oleh pendatang yang beragama Islam. Upacara yang terkenal adalah upacara kasada terkenal hingga manca Negara dan selalu ramai dihadiri banyak turis luar negeri maupun lokal.

2.1.2   Upacara Keagamaan Masyarakat Suku Tengger
1.  Pujan Karo (Bulan Karo)
 Description: I:\KEBUDAYAAN SUKU TENGGER_files\UpacaraKaro.jpg
 Upacara Karo
Hari raya terbesar masyarakat Tengger adalah upacara karo atau hari raya karo diawali tanggal 15 kalender saka Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru, kadang pula membeli pakain hingga 2-5 pasang, perabotan pun juga baru. Makanan dan
 minuman pun juga melimpah pada adat ini masyarakat suku tengger juga melakukan anjang sana (silaturrahmi) kepada semua sanak saudara, tetangga semua masyarakat Tengger. Uniknya tiap kali berkunjung harus menikamati hidangan yang diberikan oleh tuan rumah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo ini adalah: mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal-usul manusia, untuk kembali pada kesucian, dan untuk memusnahkan angkara murka.
2. Pujan Kapat (Bulan Keempat)
Upacara kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin yang dilakukan bersama- sama disetiap desa (rumah kepala desa) yang dihadiri para pini sepuh desa, dukun, dan masyarakat desa.
3. Pujan Kapitu (Bulan Tujuh)
Pujan kapitu (bulan tujuh), semua pini sepuh desa dan keharusan pandita dukun melakukan tapa brata dalam arti diawali dengan pati geni (nyepi) satu hari satu malam, tidak makan dan tidak tidur. Selanjutnya diisi dengan puasa mutih (tidak boleh makan makanan yang enak), biasanya hanya makan nasi jagung dan daun – daunan selama satu bulan penuh. Setelah selesai ditutup satu hari dengan pati geni. Pada bulan kapitu ini masyarakat suku tengger tidak diperbolehkan mempunyai hajat.
4.  Pujan Kawolu
Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tanggal 1 tahun saka. Pujan kawolu sebagai penutipan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang. Pujan kawolu dilakukan bersama dirumah kepala desa.
5. Pujan Kasangan
Upacara ini jatuh pada bulan kesembilan (sanga) tanggal 24 setelah purnama tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kenyongan dan membawa obpr. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke kepal desa, untuk dimantrai oleh pendeta, selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan mengadakan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat tengger. Masyarakat bersama anak – anak keliling desa membawa alat kesenian dan obor.
6. Kasada (Bulan Dua Belas)
Upacara kasada dilaksanakan tnggal 14 dan 15 dilakukan di ponten pure luhur, semua masyarakat tengger berkumpul menjelang pagi. Tidak hanya masyarakat Tengger yang beragama Hindu saja, tetapi semua masyarakat Tengger yang beragama lainnya. Setelah upacara, melabuhkan sesaji berupa hasil bumi yang sudah dimantrai dukun kekawah gunung Bromo. Tidak hanya upacara saja tetapi juaga bermusyawarah dan bersilaturrahmi dengan dukun dan masyarakat Tengger. Upacara dilaksanakan pada saat purnama bulan kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini juga disebut dengan hari Raya Kurba. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya kasada, diadakan berbagai tontonan seperti: tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari masing-masing desa, serta masyarakat tengger mendaki gunung Bromo untuk melempar kurban (sesaji) ke kawah gunung bromo. Setelah pendeta melempar ongkeknya (tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.
7. Upacara Unan-unan
Upacara ini di adakan hanya tiap lima tahun sekali. Unan-unan adalah tahun panjang (seperti tahun kabisat) melakukan upacara ngurawat jagat, mensucikan hal-hal yang tidak baik dengan mengorbankan kerbau. Unan yaitu menagrungi bulan. Tujuan unan-unan yaitu untuk mengadaksn penghormatan terhadap roh leluhur. Dalam acara ini selalu diadakan acara penyembelihan binatang ternak yaitu kerbau. Kepala kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak kesanggar pamujan.
             Upacara yang dilakukan secara individu:
a.   Upacara tujuh bulanan (sayut) dipimpin oleh pandita dukun.
b.  Upacara indungi anak, anak yang menginjak masa remaja.
c.  Upacara Tugel Gombak (laki-laki) dan Tugel Kuncung (perempuan),
      memotong
sedikit rambut sekitar pusar rambut anak-anak yang menginjak usia 5
tahun.
d.  Upacara Ngruwat, jika ada saudara 2 laki-laki atau salah satu anak
     laki-laki dan perempuan atau anak tunggal.
e. Upacara Kawiahan (kawin), upacara ini sama halnya dengan ijabKabul.
          f. Upacara Wala gara (Temu Manten).
g. Upacara Mendirikan Rumah.
h. Upacara Kematian, minimal 4 hari setelah meningggal dilakukan
     upacara untas
               untas (roh orang meningggal diharapkan kembali pada pemiliknya).
i.   Upacara Entas – Entas
Yakni upacara kematian yang terakhir kali dan perkawinan. “Waktu
 sekarang ini
 merupakan hari-hari baik bagi masyarakat Tengger untuk
 melaksanakan entas
entas dan perkawinan. Upacara entas-entas oleh masyarakat Tengger seperti
halnya upacara pembakaran mayat (Ngaben) di Bali. Bedanya, di
masyarakat
Tengger yang dibakar adalah boneka dari yang meninggal dunia.
2.1.3. Tempat Keagamaan Masyarakat Suku Tengger
Pemeluk agama Hindu suku Tengger tidak sama dengan pemeluk agama Hindu pada umumnya, mereka memiliki candi-candi tempat peribadatan,namun bila melakukan peribadatan bertempat di Punden, danyang dan Poten. Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalan suatu susunan komposisi dipekarangan yang dibagi tiga mandala/zone yaitu:       
a.  Mandala utama
Disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari:
Padma berfungsi sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa.
Bedawang Nala melukisakan kura-kura raksasa mendukung padmasana,
dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di
belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan       
keagungan bentuk dan fungsi padmasana.
·        Bangunan sekepat (tiang empat) fungsinya untuk penyajian sarana
upacara atau aktifitas serangkaian upacara. Bale pawedan serta tempat
          dukun sewaktu melakukan pemujaan.
b.  Mandala madya
Disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari:
·        Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya
          memakai gelung empat bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan
          bangunan bujur sangkar.
·        Bale kentongan letaknya disudut depan pekarangan pura, bentuknya
          susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kentongan.
          Fungsinya untuk tempat kentongan yang dibunyikan di awal, akhir
dan
          saat tertentu dari rangkaian upacara.
·        Bale bengong, disebut juga pawerangan suci letaknya diantara jaba
tengah, mandala nista. Bentuk bangunannya empat persegi. Fungsinya
untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan
          di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.
c.   Mandala Nista
Disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar kedalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan dan pitu masuk ke jeroan utama memaki kori Agung. Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menghadap ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghdap kea rah timur kea rah yrbitnya matahari. Komposisi masa – masa bangunan pura berjajar antara selatan menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan (menurut bpk.Soedja’i).
d.  Posesi Upacara Kasada
                     Upacara ini dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat hindu
tengger yang mendiami 41 desa pada 4 kecamatan di Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan. Upacara kasada diadakan mulai tengah malam hingga dini hari, dan persiapannya dilaksanakan sejak 24.00 WIB bergerak mulai di depan rumah dukun (pendeta) Mujono, dan sampai ke pantai p[asir di pura Agung Puten kira-kira pukul 04.00 WIB. Menjelang menjelang matahari terbit yang disebut dengan Surya Serwana. Pada pukul 05.00 WIB upacara kasada dilaksanakan dengan terlebih dahulu dilakukan ritual di pura puten yang dilnjutkan turun menuju kawah gunung Bromo yang berjarak 2 km untuk melakukan ritual sesaji yang terdiri dari dua unsur penting, yaitu kepala bungkah dan kepala gantung. Kepal bungkah itu artinya buah-buahan yang berasal dari tanah seperti kentang dan ketela, serta kepala gantung yaitu buah-buahan yang bergantung. Ritual sesaji itu merupakan sesembahan sebagai ciri utama kehidupan dari masyarakat tengger, kecuali ada secara spesifik yang memiliki permohonan khusus, biasanya korbannya yaitu ayam atau kambing ini, yang khusus mau jadi pejabat. Pada pengambilan sesajen para pengambil sesajen memakai gala dari kain goni, banyak tamu yang melemparkan sesajen ke kawah gunung bromo. Namun adapula yang mengambil uang ke dalam kawah tersebut. Pada upacara kasada petani juga melemparkan hasil pertaniaanya ke dalam kawah. Orang yang mengambil lemparan tidak boleh hanya mengambil satu kali, tetapi harus tujuh kali berturut-turut. Apabila melanggar maka orang tersebut mendapatkan musibah, seperti sakit. Cara penyembuhannya adalah dengan cara meminta maaf dan juga membuat acara ruwatan (bpk. Sugik).
e.    Legenda Kasada
Gunung Bromo tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan
mastarkat suku Tengger. Legenda kasada adalah merupakan cikal bakal rakyat Tengger dan menggambarkan hubungan manusia dan makhluk halus gunung Bromo. Dalam legenda kasada makhluk halus gunung Bromo tidak memilki namA sendiri tetapi di panggil oleh nama Sang Yang Widhi. Cikal bakal Tengger dalam ceritanya digambarkan sebagai asal – usulnya dari kerajaan majapahit dari sebelum keturunan kerajaan Hindu-Budha di jawa. Tujuan legenda kasada adalah bahwa suatu nenek monyang Tengger bernama “Dewa Kusuma” anak dari “Joko Seger” dan “Rara Anteng” mengorbankan jiwanya untuk keluarganya dan orang Tengger. Akibatnya adalah perjanjian di antara roh leluhur “Dewa Kusuma”dan orang Tengger untuk memberi sesajian setiap tanggal 14 bulan kasada dalam ketanggalan Tengger. Upacara sesajian itu bernama “Upacara Kasada” dan diikuti oleh orang Tengger satu tahun sekali sampai sekarang. Dalam permulaan legenda kasada ada tiga peran pokok. Yang pertama bernama ‘Kyai Dadap Putih’ suatu dukun dari kerajaan majapahit. Dia datang ke daerah Tengger bertujuan bersemedi. Peran yang kedua adalah orang perempuan muda bernam “Rara Anteng” pula datang dari kerajaan majpahit.dia datang ke daerah Tengger untuk mencari ayahnya yang menjadi hilang dan sambil semedi di gunungnya. Peran ketiga adalah “‘Joko Seger” orang dari desa di daerah gunungnya. Dia pula mencari orang, pamannya yang hilang sambil semedi di gunungnya. “Kyai Dadap Putih” bertemu dengan “Rara Anteng” dan mengangkat dia sebagai anaknya. Saat “Rara Anteng” bersemedi dia bertemu dengan “Joko Seger” .(diceritakan oleh Bpk.Soedja’i)
2.1.4 Peralatan Upacara
Baju Adat Tengger Hitam, sehelai kain baju tanpa jahitan,Udeng dan kain Selempang berwarna kuning. Hal ini sesuai dengan yang diperoleh sebagai warisan dari nenek moyang Suku Tengger. Prasen, berasal dari kata rasi atau praci (Sansekerta) yang berarti zodiak. Prasen ini berupa mangkuk bergambar binatang dan zodiak. Beberapa prasen yang dimiliki oleh para dukun berangka tahun Saka: 1249, 1251, 1253, 1261; dan pada dua prasen lainnya terdapat tanda tahun Saka 1275. Tanda tahun ini menunjukkan masa berkuasanya pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi di Majapahit. Tali sampet, terbuat dari kain batik, atau kain berwarna kuning yang dipakai oleh Dukun Tengger.
Genta, keropak dan prapen, sebagai pelengkap upacara.  
2.2.  ADAT ISTIADAT
2.2.1. Tata Cara Bertamu
Masyarakat tengger pada umumnya, apabila bertamu mereka tidak
berada diruang tamu pada umumnya melainkan di dapur.hal ini
disebabkan oleh dinginnya suhu udara yang sangat menyengat.
Sehingga, mereka cenderung berada didekat perapian yang
Letaknya
di dapur untuk menghangatkan badan. Dan suguhan khasnya
adalah
Jagung Bakar.dan kebiasaan ini telah ada sejak zaman dahulu
Hingga melekat sampai saat ini.
2.2.2. Bahasa
Masyarakat suku tengger merupakan keturunan dari Roro anteng dan Joko seger. Roro Anteng yang masih keturunan bangsawan majapahit dan menganut agama Hindu-Budha majapahit. Saat majapahit mulai menurun kekuasaannya dan daerah Jawa sudah mulai dikuasai oleh Islam Roro Anteng melarikan diri menuju daerah Tengger hingga ia menikah dengan Joko Seger. Rara Anteng sebagai keturunan bangsawan majapahit ia menggunakan bahasa Jawa (kuno) atau biasa disebut bahasa jawa majapahit sebagai alat komunikasi.
Mereka menggunakan dua tingkatan bahasa yaitu ngoko, bahasa sehari-hari terhadap sesamanya, dan krama untuk komunikasi terhadap orang yang lebih tua atau orang tua yang dihormati. Pada masyarakat Tengger tidak terdapat adanya perbedaan kasta, dalam arti mereka berkedudukan sama.
Contoh: Aku ( Laki-laki) = Reang , Aku ( wanita ) = Isun , Kamu ( untuk
seusia)= Sira , Kamu ( untuk yang lebih tua) = Rika, Bapak/Ayah= Pak , Ibu =
Mak , Kakek=Wek , Kakak= Kang , Mbak= Yuk
2.2.3. Pakaian khas
Masyarakat suku tengger memiliki cirri khas, yaitu sarung sebagai pelengkap dalam berbusana. Laki – laki maupun perempuan, mereka tidak lepas dari sarung sebagai cirri khas. Semua itu bermula dari dinginnya cuaca wilayah tengger sehingga mereka menggunakan sarung, yang berawal dari orang tua mereka yang memakai sarung, sehingga mereka meniru kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua mereka. Masyarakat suku tengger yang akan membuat KTP, mereka berfoto dengan menggunakan pakaian adat sebagai foto KTP. Mereka juga berpakaian mirip dengan suku Hindu Bali, yang menggunakan selendang kuning sebagai pelengkap, karena suku bali pada umumnya satu – kesatuan dengan mereka (suku tengger), yaitu bangsawan majapahit yang melarikan diri untuk mempertahankan adat – istiadat, serta kepercayaan mereka.  .
2.2.4. Kepercayaan Masyarakat Tengger
Menurut kosmologi konsep kepercayaan Masyarakat suku tengger gunung bromo berbentuk tengah atau pelabuhan untuk sistim kepercayaan rakyat. Pada zaman dahulu semua bangunan dan sanggar tengger dibangun menghadap gunung bromo. Dukun akan melakukan selamatan menghadap gununga bromo. Walaupun saat ini orang yang meninggal dunia dikuburkan menghadap selatan, berbeda dari pada orang yang lain jawa. Selanjutnya dukun melakukan selamtan menghadap gunung bromo atau keselatan. Semua hal di atas bisa dijelaskan oleh kosmologi tengger pada zaman dahulu.
Orang tengger percaya bahwa dengan daerahnya mereka mendapat nama dari legenda kasada yang diceritakan di atas. Dua peran dalam legenda tersebut dianggap cikal bakal orang Tengger, Yaitu ‘Rara Ateng’ dan ‘Joko Seger’. Nama Tengger dari keduanya disebut ‘teng’ dari ‘Rara Ateng’ dan ‘ger’ dari ‘Joko Seger’.kata tengger menjadi istilah untuk ‘orang gunung’ dalam bahasa Jawa Kuno. Pada waktu agama Hindu-Budha menguasai pulau Jawa terutama kerjaan Majapahit, daerah Tengger dianggap sebagai tempat sakral. Daerahnya digunakan untuk tempat semedi dan selamatan terhadap ‘Dewa Api’ yaitu ‘Dewa Brama’. Gunung Bromo juga dapat namanya dari ‘Dewa Brama’. Tidak hanya Gunung Bromo yang berhubungan dengan kepercayaan Hindu-Budha dari India di daerah Tengger. Kedua Laut Pasir bersama Gunung Mahameru berhubungan dengan kepercayaan Hindu. Dalam wejangan Jawa Kuno yang bernama ‘Prastha Nikaparwa’ ada laut pasir si saerah gunung-gunung Himalaya yang harus dilewati oleh para Pandusa, juga ada di Gunung Meru. Maka si9mbolisme di gunung ini memang kuat. Gunung mahameru mendapat nama dari ‘Gunung Meru’. Dalam keprcayaan orang Hindu menganggap ‘Gunung Meru’ sebagai rumah para dewa hubungannya diantara manusia (bumi) dan Kayangan. Pada waktu itu Agama Islam menguasai Pulau Jawa, dan kerajaan majapahit turun pada abad 16. Kebanyakan orang Hindu-Budha di Jawa melarikan diri sampai pulau Bali. Betapapun orang yang tidak bisa berjalan ke Bali pindah ke daerah bergunung-gunung Tengger. Orang Tengger sampai saat ini masih beragama Hindu dan mereka memegang teguh agamanya meskipun banyak sekali pendatang dari luar daerah Tengger, bahkan dari manca Negara sekalipun yang datang untuk menikmati keindahan panoramanya, atau menetap di daerah tersebut untuk menjadi penduduk dan bertempat tinggal disana.
.

Asal-Usul Manusia menurut Falsafah Tengger
Ajaran tentang asal-usul manusia adalah seperti terdapat pada mantra purwa bumi.
Sedangkan tugas manusia di dunia ini dapat dipelajari melalui cara
masyarakat Tengger memberi makna kepada aksara Jawa yang mereka kembangkan. Adapun makna yang dimaksudkan adalah seperti tersebut dibawah ini:
-  h.n.c.r.k : hingsun nitahake cipta, rasa karsa,
-  d,t,s,w,l : dumadi tetesing sarira wadi laksana,
-  p, dh, j, y, ny : panca dhawuh jagad yekti nyawiji,
-  m, g, b, th, ng : marmane gantia binuka thukul ngakasa.
Apabila diartikan secara harfiah kurang lebih sebagai berikut: Tuhan Yang
Maha Esa menciptakan cahaya, rasa dan kehendak pada manusia, (manusia)
dijadikan melalui badan gaib untuk melaksanakan lima perintah di dunia
dengan kesungguhan hati, agar saling terbuka tumbuh (berkembang) penuh
kebebasan (ngakasa menuju alam bebas angkasa).
Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dilahirkan dari tidak
ada menjadi ada atau dari alam gaib, untuk mengemban tugas di dunia ini
melaksanakan lima perintah-Nya dengan menyatukan diri pada tugasnya,
agar di dunia ini tumbuh keterbukaan dan perkembangan menuju
kesempurnaan.
Masih ada lagi tafsiran tentang aksara Jawa yang dikaitkan dengan cerita
tentang Aji Saka, yaitu bahwa ada utusan, yang keduanya saling bertengkar
(berebut kebenaran). Keduanya sama kuatnya (sama-sama berjaya), yang
akhirnya keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu menjadi mayat. Hal ini
mengandung makna bahwa baik-buruk, senang-susah, sehat-sakit, adalah
ada pada manusia dan tak dapat dihindari. Kesempurnaan hidup manusia
apabila dapat menyeimbangkan kedua hal itu.
2.2.5.  Hubungan Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger
Masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya
merupakan pembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan halus yang
bersifat abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke pertiwi (bumi),
sedangkan sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di
dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat
berhenti. Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua
kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan.
Masyarakat Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir ialah bagian timur yang disebut juga kawah candradimuka, yang akan menyucikan sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada hari ke-1000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.
2.2.6.  Hubungan Antar-manusia Menurut Falsafah Tengger
Sesuai dengan ajaran yang hidup di masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setia, yaitu:
-setya budaya artinya, taat, tekun, mandiri; 
setya wacana artinya setia pada ucapan;
-  setya semya artinya setia pada janji;
-  setya laksana artinya patuh, tuhu, taat;
-  setya mitra artinya setia kawan.
Ajaran tentang kesetiaan berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat Tengger. Hal ini tampak pada sifat taat, tekun bekerja, toleransi tinggi, gotong-royong, serta rasa tanggung jawab. umpamanya menunjukkan bahwa pada umumnya mereka bekerja di ladangnya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore setiap hari secara tekun. Sikap gotong-royongnya terlihat pula pada waktu mendirikan pendopo agung di Tosari, adalah sebagai hasil jerih payah rakyat membuat jalan sepanjang 15 km dari Tosari menuju Bromo (tahun 1971-1976). Demikian pula tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial tercermin pada kesadaran rakyat untuk ikut serta menjaga keamanan, serta merelakan sebagian tanahnya apabila terkena pembangunan jalan.
Sifat lain yang positif adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan, yaitu kesediaan mereka untuk menerima orang asing atau orang lain, meskipun mereka tetap pada sikap yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang Tengger.
Hubungan antara pria dan wanita tercermin pada sikap bahwa pria adalah sebagai pengayom bagi wanita, yaitu ngayomi, ngayani, ngayemi, artinya memberikan perlindungan, memberikan nafkah, serta menciptakan suasana tenteram dan damai.
2.2.7. Sikap dan Pandangan Hidup Pandangan tentang Perilaku
Sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil). Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut pengetahuan tentang watak yaitu:
Ø  prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya;
Ø  prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana;
Ø  pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau
    pemerintah;
Ø  prasetya berarti setya;
Ø  prayitna berarti waspada.
Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lain mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkan pula sikap lain sebagai perwujudannya.
Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidak ikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah ada kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut serta dalam kegiatan gotong-royong.
Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan mereka tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itu tampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagi para putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya perkawinan bersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya.
Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankan tanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya, yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur.
Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke atas).
Masyarakat Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria Tengger. Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar anak mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya. Sikap mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara mereka mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya kejayaan dan kesejahteraan masyarakatnya.
2.2.8. Siklus Hidup Menurut Falsafah Tengger
Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut pandangan
masyarakat Tengger, yakni:
1.    umur 0 sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang
bramacari yaitu masa yang tepat untuk pendidikan;
2.    usia 21 (wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta,
masa yang tepat untuk membangun rumah dan mandiri;
3.    60 tahun ke atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai
manusia usia lanjut untuk lebih mementingkan masa akhir hidupnya.
Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang dimaksudkan adalah hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.
2.2.9.  Pertunangan dan Perkawinan
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang
cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan (pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon) berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok. Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu barulah upacara perkawinan dilakukan.
Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, papan tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih). Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas kawin.
Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan. Biasanya setelah melakukan perkawinan kemanten pria harus tinggal dirumah (mengikuti) kemanten wanita.
2.2.10. Hak Waris
Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah
untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang
terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga
yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh
kerelaan pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yangdibakukan.

























BAB III
PENUTUP

3.1.  KESIMPULAN
Jadi dari paparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Pewaris budaya Etnografi masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo adalah proses pewarisan watak khas atau etos, akal serta pikiran masyarakat suku Tengger yang mendiami suatu daerah terhadap generasi penerusnya yang sudah terkait dengan hal yang sering kali dilakukan sehingga menjadi suatu kebiasaan atau tradisi yang tidak terpisahkan masyarakat suku tengger yang mendiami daerah di Gunung Bromo disekitar empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu: Probolinggo, Malang, Lumajang, dan Pasuruan.
3.2. SARAN
Berdasarkan uraian yang telah saya sampaikan saya berharap agar pembaca lebih banyak memahami Pewarisan Budaya Etnografi Masyarakat Tengger di Gunung Bromo. Saya menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu, saya mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca. Dan saya meminta maaf apabila dari uraian ini banyak kekeliruan baik dari segi tulisan maupun ceritanya.



DAFTAR PUSTAKA

4.  http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/10/nyadran-penutupan-upacara-karo-suku-tengger/
6. www.google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar